Jumat, 29 Juni 2012

#CEMAMAT EPISODE 2

CEMAMAT EPISODE 2

“Nenek, yang sabar yah. Nenek kuat kok. Aryo yakin nek. Huhu” (sambil menahan nangis)

Masih terngiang kejadian itu di otaku, selalu terbayang. Dan perutku serasa mual di buatnya. Kalau aku bisa mencongkel memory ini dari otaku adalah. Memory tentang kejadian itu. Karena semenjak kejadian itu. Seluruh kerjaanku di kantorku yang berada di kota cilegon berantakan.
beberapa kali atasanku, menegorku karena klien yang sudah di depan mata, menandatangani berkas kerjasama. Harus menolak karena ulahku.

Aryo winata namaku, aku adalah seorang eksekutif manager dii salah satu perusahaan swasta di bidang perdagangan industri dalam dan luar negri. Umurku yang terbilang muda, yakni dua puluh lima tahun. membuat banyak menuai dari orang orang sekitar lingkungan kerjaku, bagaimana tidak. Dengan umur yang relatif muda aku bisa menempati jabatan bergengsi di kantor dimana aku bekerja.

Aku belum menikah, memikirkannya pun tidak. Pacarku yang sudah menjadi mantan saat ini entah kemana, meninggalkan ku bersama selingkuhannya yang sangat mapan di banding aku pada saat itu. Dan kini hari hariku hanya fokus kerja dan memberikan penghasilanku untuk menyenangkan keluargaku.

papah, dan nenek. Yah, hanya itu  yang paling berharga untuku saat ini. Kendati sebenarnya di dalam rumahku ada orang lain yang ku sebut kakak dan adik serta ibu. Namun aku tidak mengakuinya karena mereka adalah soudara tiri, hasil perkawinan ayahku yang seorang pensiunan bank swasta di jakarta.

Sore itu, handphoneku berdering. Saat aku usai habis melangsungkan meeting dengan beberapa klien ku, di salah satu hotel di cilegon.
Dan ternyata.....

“NENEK!!!!!!! NENEK KENAPA PAH !!! PAPAH DIMANA!! JAWAB PAH !! ” (Suara Ambulans)

Suara ku terdengar keras, hingga ke lobi hotel. Sehingga membuat orang orang berdasi di sekitarku menoleh ke arahku.
Rupanya nenek masuk rumah sakit. Aku meminta kepada ayahku untuk mendekatkan telepon genggamku di telinga nenek, karena aku sangat kuatir dan ingin berbicara dengannya. Aku sangat panik saat itu, yang kupikirkan bagaimana caranya agar aku ada di ambulan yang membawa nenekku saat itu.

“Nenek, yang sabar yah. Nenek kuat kok. Aryo yakin nek. Huhu” (sambil menahan nangis)
Tangis ku pun pecah usai, mengatakan hal tersebut. Seraya berlari ke arah mobil sedan miliku dan meraih kunci dengan tergesa gesa karena panik.
Sesampainya di rumah salah satu swasta di cilegon. Nenek ku di rawat. Tangisku semakin pecah sejadi jadinya.

“huhuhuhuhuhuhuh”

Ketika aku melihat ayah dan sodara sodaraku yang datang dari berbagai tempat di kota ini, tengah menunduk menunggu, hasil yang di paparkan oleh dokter. Mereka tidak dapat masuk ruangan karena nenek ku berada di dalam ruang ICU. Dan tidak ada yang boleh masuk untuk meiihat ataupun menunggu di dalam.

Neneku di diagnosa penderita penyakit dalam, yang bahkan aku kurang paham apa penyebabnya, lagi pula aku pun tidak begitu ingin tahu. Karena yang aku pikirkan saat ini adalah, wajah wajah nenek saat tersenyum kala belum menderita penyakitnya saat ini.

Dokter rumah sakit itu memutuskan bahwa nenek, harus di rawat beberapa hari di rumah sakit. Guna menjalani sejumlah pengobatan dan terapi di rumah sakit. Namun masih di dalam ruang ICU itu, akibatnya aku dan ayahku harus rela menunggu di lobi depan pintu masuk ruang ICU tersebut.
Malam itu, hari ketiga aku menunggu nenek di rumah sakit, seakan sudah menjadi rumah sendiri. Aku merasa bebas bepergian sana sini. Usai rumah sakit swasta yang tergolong rumah sakit elit itu tutup. Wajar saja sebab, 

sudah tiga hari pula aku bolos kerja. Dan aku masa bodo perihal surat peringatan dua yang di layangkan kepadaku.
Tiba tiba mataku tertuju pada sumber suara yang kuketahui adalah sebuah tempat tidur pasien yang di dorong oleh dua orang perawat laki laki yang di bantu oleh dua orang sekuriti perempuan. Yang melewati tempatku duduk di depan ruangan ICU.

Akupun mencoba berdiri, mencoba melihat lebih teliti. Sakit apakah orang ini? Dia baru saja bersal dari UGD, Unit Gawat Darurat. Tempat pasien pasien Darurat datang dan di tangani. Siapa dia?
Banyak bercak merah, diatas sebuah kain hijau yang menyelimuti tubuh dan wajahnya. Ah sudahlah, bukan urusanku.

Tidak lama berselang, sekuriti pembawa tempat tidur pasien tadi berjalan beriringan, hendak kembali ke pos jaga mereka. Akupun bertanya pada mereka. Kenapa orang yang barusan, dan siapa dia. Rasa penasaranku timbul dan mereka menjawab.....
Bahwa yang barusan Itu, adalah seorang perempuan muda yang menjadi korban tabrakan beruntun siang tadi.

Nyawanya tidak tertolong, meski dokter sudah berupaya melkukan penyelamatan. Wajahnya rusak, dan sebelah bola matanya hilang pada kecelakaan
Mendengar ceritanya, bulukuduku merinding. Dan tidak bisa berkata kata apapun menanggapi cerita dua orang sekuriti tersebut. Dan akupun kembali terduduk di bangku tempat aku duduk.
Entah kenapa, jantungku berdegup cepat. Dan bulu kuduku yang merinding tidak kunjung turun.

“ah mendingan gw ngopi deh kedepan”
Alih alih mencoba menenangkan diri sendiri. Akupun berjalan keluar untuk membeli secangkir kopi yang, sudah tiga hari sering aku beli. Tempatnya berada di sebrang tempat rumah sakit ini berada. Tidak jauh, maka dari itu aku hanya berjalan kaki.

Suara angin berhembus terdengar dan terasa di telingaku, jarum jam di jam tanganku menunjukan pukul setengah tiga dini hari. Para sekuriti tadi. Sudah terlelap di bangku yang terdapat di pos jaganya.

Aku membawa sisa kopi ku yang di seduh menggunakan cangkir plastik dan hendak ku bawa ke dalam rumah sakit. Saat berjalan, aku sempat melihat ke arah mobilku dan aku melihat ayahku tengah terlelap tidur di dalamnya. Ingin rasanya aku tidur. Namun aku harus tetap berjaga, kalau kalau ada laporan dari dokter jaga tentang kondisi nenek.

Aku berjalan perlahan , sambil menenteng gelas plastik berisikan kopi ku yang sudah dingin. Melewati trotar jalan menuju pintu masuk rumah sakit ini. Sepi dan terkesan seram, tentu saja karena rumah sakit ini sudah berdiri sejak jaman belanda dulu. Tiba tiba

Su.....su..suaraaa...a sekelibas, se...olah a..aaada sesuatu yang melintas di depanku. Akupun menggerakan leherku, menengok ke kiri dan kenanan hadapanku. Namun aku tidak melihat apapun di hadapanku. Menandak, aku menjadi takut. Dan menggigil. Dan merinding. Sebab aku sangat yakin ada sesuatu yang melintas di depanku.
Langkahku yang tadinya perlahan,kupercepat. Agar cepat sampai di dalam. Namun.

a....aa....aa..a..kuu melihaatnya.....akuu melihattnya..jelas sekali!!!!

Jelas sekali terpampang di hadapanku sosok hitam membentuk seorang wanita. Berdiri di hadapanku. Jaraknya lima meter dariku!!! Aaaaa...aaa..kkuu takku..tttt
mulutku tidak dapat berkata kata lagi....
dia berdiri terdiam menunduk, di kasir tempat menebus obat...

tanpa pikir panjang akupun bersiap berlari, dan meninggalkan tempat itu!!
Tapi..

La...langkah..ku terhentii...  kaa..aa..aare..nna aku merasakan ada tangan yang menempel di pundaku..... dann... tida..aakk mau lepas.
aku berulang kali menelan ludahku, dan tanpa sadar aku pun menolehkan kepala ku perlahhan mencoba melihat sosok.. yang memegang pundaku tersebut.

“papah?”

Hufttt. Ternyata ayahku.. tenang rasanya. Tunggu, apakah ayaku tidak melihat sosok perempuan hitam itu?!!!
Aku kembali menolehkan wajahku ke arah kasir tempat perempuan hitam itu berdiri!! Dan ternyata!!
HILANG!! Hilang, dan tidak ada... kemana perginya..

“loh papah emang gak liat? “
Belum selesai berucap, saat aku mencoba kembali mengarahkan pandanganku ke arah ayaku. Tiba tiba!!

“AAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Usa berteriak, kesadaranku pun hilang.
Saat terbangun.. aku melihat wajah para perawat wanita. Di depanku.ia memberikan pertanyaan usai, apa yang membuatku jatuh pingsan.
ya aku pingsan. Dan ketika aku mejelaskan kejadian yang aku lihat. Mereka hanya terdiam dan, seolah tidak percaya. Bukan. Buka tidak percaya tapi pura pura tidak percaya aku yakin.

“jam berapa ini sus?”
Aku bertanya kepada salah seorang perawat yang ada di hadapnku. Di menujukan jam pada tangannya, dan kulihat saat ini pukul lima pagi, itu berarti aku telah pingsan selama dua jam.

Akupun memutuskan untuk, bangun pada siang harinya, karena tubuhku sudah kurasa normal kembali. Dan aku tidak ingin berlama lama di tempat tidur rumah sakit ini. Lagi pula aku kan sedangn menunggu nenekku yang di rawat.

Bukannya tidak ingat, saat ayah menanyaiku dengan beragam pertanyaan namun aku, memang tidak ingin mengingat kejadian semalam. Sama sekali tidak ingin.

karena memory itu akan membuat bulu kuduku kembali berdiri.
Tidak terasa malam kembali menjelang, kali ini. Giliran ayah yang berjaga dan aku di persilahkan untuk tidur di mobil. Aku menurut saja mengingat pesan dokter yang merawatku tadi pagi. Bahwa aku harus istirahat, karena menurutnya aku terlalu lelah.

Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari lewat lima belas menit tepatnya. Meski mataku dalam posisi terpejam. Namun aku masih saja tidak bisa membuat diriku tertidur. Entah mengapa. Kejadian semalam masih saja terbesit di pikiranku. Dan entah mengapa juga. Sejak saat iut, kemanapun aku melangkah, aku merasa seperti ada sesorang yang mendampingi ku.

Inilah alasan hingga saat ini pun, aku enggan membuka kedua kelopak mataku. Meski aku tidak kunjung tidur. Sebab terasa sekali adanya hawa sesosok mahluk yang ada di kursi yang berada di sebelahku.
Perlahan tapi pasti. Pikiranku pun melayang. Aku mulai mengantuk, sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya.

*hhhhhshhhhshhhhh*

Aaaa...aa...appa. yang barusan itu, sss..uuaaraaa yang jelas berasal dari kursi sebelah ku yang berada di mobilku. Sss..uuuaa..aarra mendesis layaknya ularr...

“aahhkkkhhhhkk,. Uhuk uhuk”

Ya Tuhaann !!!! kali ini jelas sekali kudengar. Suara seseorang berbatuk. Tepat berada di sebelahku, aku makin merapatkan kedua kelopak mata ku, dan tidak sama sekali berniat membukanya !!!
Aku sangat takut!!. Takuttt kalau kejadian semalam akan kembali menimpaku..

*tok tok tok tok* (suara orang mengetuk perlahan di jendela)

“yooooo...”

Suara suara yang entah dari maana berasal ini terus berdatangan, dan kali ini. Seseorang memanggil namaku. Aku sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa!!
Bagaiimana ini?? Aku haruss apa ya Tuhannn??

“yoooooo......... aryoooooooo sayyyyyaaannnnggg”

Suara itu? Aa...aaa..kkuu. akkkuuu. Aku tau suara ittuuu...

“yooooo,,,, akuuuu sillllllllllaa..aaa”

“BOHONG!! SILA GAK ADA DISINI !! DIA DI LUAR NEGRI!!!”

“yoooo.....”

Suara panggilan panggilan itu, terus datang,. Dan tiba tiba terasa.. cairan hangat yang menetis di pipi sebelah kiriku...apa ini?
Akupun membuka mataku dan mencoba mengintip dan menerawang cairan apakah ini??  Dan ternyata ...
“Da.....d...aa..dd....daaarahh”

Saat itu juga, aku kembali melihat wajah yang kulihat tadi malam saat aku pingsann !!!..
Waaajj,,,aaahh yyaaaang. Pennnuh,, dengan luka, dan lubang..... dannnnn. Kelopak mata yang somplak. Dan tidak ada bola mataanya...

Ddddd...aaarahhh,, kennnttaall,, berwarrnna hitammm,, menetess dari arah kelopak matannyyaaa,,, terseeebbuutttt.. ddiaaaaa.. dddiiiiaaaaa. Diiiaaaaa..

seorang perempuan yang di ceritakan oleh sekuriti rumah sakit ini !!!
Dia seorang pempuang korban kecelakaan tabrakan beruntun!!!!

Dan ternyataaaaa... diiiiaaaaa SIILLAAAAA??!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar