CEMAMAT EPISODE 2
“Nenek, yang sabar yah. Nenek kuat kok. Aryo yakin nek.
Huhu” (sambil menahan nangis)
Masih terngiang kejadian itu di otaku, selalu terbayang.
Dan perutku serasa mual di buatnya. Kalau aku bisa mencongkel memory ini dari
otaku adalah. Memory tentang kejadian itu. Karena semenjak kejadian itu.
Seluruh kerjaanku di kantorku yang berada di kota cilegon berantakan.
beberapa kali atasanku, menegorku karena klien yang sudah di depan mata, menandatangani berkas kerjasama. Harus menolak karena ulahku.
beberapa kali atasanku, menegorku karena klien yang sudah di depan mata, menandatangani berkas kerjasama. Harus menolak karena ulahku.
Aryo winata namaku, aku adalah seorang eksekutif manager
dii salah satu perusahaan swasta di bidang perdagangan industri dalam dan luar
negri. Umurku yang terbilang muda, yakni dua puluh lima tahun. membuat banyak
menuai dari orang orang sekitar lingkungan kerjaku, bagaimana tidak. Dengan
umur yang relatif muda aku bisa menempati jabatan bergengsi di kantor dimana
aku bekerja.
Aku belum menikah, memikirkannya pun tidak. Pacarku yang
sudah menjadi mantan saat ini entah kemana, meninggalkan ku bersama
selingkuhannya yang sangat mapan di banding aku pada saat itu. Dan kini hari
hariku hanya fokus kerja dan memberikan penghasilanku untuk menyenangkan
keluargaku.
papah, dan nenek. Yah, hanya itu yang
paling berharga untuku saat ini. Kendati sebenarnya di dalam rumahku ada orang
lain yang ku sebut kakak dan adik serta ibu. Namun aku tidak mengakuinya karena
mereka adalah soudara tiri, hasil perkawinan ayahku yang seorang pensiunan bank
swasta di jakarta.
Sore itu, handphoneku berdering. Saat aku usai habis
melangsungkan meeting dengan beberapa klien ku, di salah satu hotel di cilegon.
Dan ternyata.....
“NENEK!!!!!!! NENEK KENAPA PAH !!! PAPAH DIMANA!! JAWAB
PAH !! ” (Suara Ambulans)
Suara ku terdengar keras, hingga ke lobi hotel. Sehingga
membuat orang orang berdasi di sekitarku menoleh ke arahku.
Rupanya nenek masuk rumah sakit. Aku meminta kepada
ayahku untuk mendekatkan telepon genggamku di telinga nenek, karena aku sangat
kuatir dan ingin berbicara dengannya. Aku sangat panik saat itu, yang
kupikirkan bagaimana caranya agar aku ada di ambulan yang membawa nenekku saat
itu.
“Nenek, yang sabar yah. Nenek kuat kok. Aryo yakin nek.
Huhu” (sambil menahan nangis)
Tangis ku pun pecah usai, mengatakan hal tersebut. Seraya
berlari ke arah mobil sedan miliku dan meraih kunci dengan tergesa gesa karena
panik.
Sesampainya di rumah salah satu swasta di cilegon. Nenek
ku di rawat. Tangisku semakin pecah sejadi jadinya.
“huhuhuhuhuhuhuh”
Ketika aku melihat ayah dan sodara sodaraku yang datang
dari berbagai tempat di kota ini, tengah menunduk menunggu, hasil yang di
paparkan oleh dokter. Mereka tidak dapat masuk ruangan karena nenek ku berada
di dalam ruang ICU. Dan tidak ada yang boleh masuk untuk meiihat ataupun
menunggu di dalam.
Neneku di diagnosa penderita penyakit dalam, yang bahkan
aku kurang paham apa penyebabnya, lagi pula aku pun tidak begitu ingin tahu.
Karena yang aku pikirkan saat ini adalah, wajah wajah nenek saat tersenyum kala
belum menderita penyakitnya saat ini.
Dokter rumah sakit itu memutuskan bahwa nenek, harus di
rawat beberapa hari di rumah sakit. Guna menjalani sejumlah pengobatan dan
terapi di rumah sakit. Namun masih di dalam ruang ICU itu, akibatnya aku dan
ayahku harus rela menunggu di lobi depan pintu masuk ruang ICU tersebut.
Malam itu, hari ketiga aku menunggu nenek di rumah sakit,
seakan sudah menjadi rumah sendiri. Aku merasa bebas bepergian sana sini. Usai
rumah sakit swasta yang tergolong rumah sakit elit itu tutup. Wajar saja sebab,
sudah tiga hari pula aku bolos kerja. Dan aku masa bodo perihal surat
peringatan dua yang di layangkan kepadaku.
Tiba tiba mataku tertuju pada sumber suara yang kuketahui
adalah sebuah tempat tidur pasien yang di dorong oleh dua orang perawat laki
laki yang di bantu oleh dua orang sekuriti perempuan. Yang melewati tempatku
duduk di depan ruangan ICU.
Akupun mencoba berdiri, mencoba melihat lebih teliti.
Sakit apakah orang ini? Dia baru saja bersal dari UGD, Unit Gawat Darurat.
Tempat pasien pasien Darurat datang dan di tangani. Siapa dia?
Banyak bercak merah, diatas sebuah kain hijau yang
menyelimuti tubuh dan wajahnya. Ah sudahlah, bukan urusanku.
Tidak lama berselang, sekuriti pembawa tempat tidur
pasien tadi berjalan beriringan, hendak kembali ke pos jaga mereka. Akupun
bertanya pada mereka. Kenapa orang yang barusan, dan siapa dia. Rasa
penasaranku timbul dan mereka menjawab.....
Bahwa yang barusan Itu, adalah seorang perempuan muda
yang menjadi korban tabrakan beruntun siang tadi.
Nyawanya tidak tertolong, meski dokter sudah berupaya
melkukan penyelamatan. Wajahnya rusak, dan sebelah bola matanya hilang pada
kecelakaan
Mendengar ceritanya, bulukuduku merinding. Dan tidak bisa
berkata kata apapun menanggapi cerita dua orang sekuriti tersebut. Dan akupun
kembali terduduk di bangku tempat aku duduk.
Entah kenapa, jantungku berdegup cepat. Dan bulu kuduku
yang merinding tidak kunjung turun.
“ah mendingan gw ngopi deh kedepan”
Alih alih mencoba menenangkan diri sendiri. Akupun
berjalan keluar untuk membeli secangkir kopi yang, sudah tiga hari sering aku
beli. Tempatnya berada di sebrang tempat rumah sakit ini berada. Tidak jauh,
maka dari itu aku hanya berjalan kaki.
Suara angin berhembus terdengar dan terasa di telingaku,
jarum jam di jam tanganku menunjukan pukul setengah tiga dini hari. Para
sekuriti tadi. Sudah terlelap di bangku yang terdapat di pos jaganya.
Aku membawa sisa kopi ku yang di seduh menggunakan
cangkir plastik dan hendak ku bawa ke dalam rumah sakit. Saat berjalan, aku
sempat melihat ke arah mobilku dan aku melihat ayahku tengah terlelap tidur di
dalamnya. Ingin rasanya aku tidur. Namun aku harus tetap berjaga, kalau kalau
ada laporan dari dokter jaga tentang kondisi nenek.
Aku berjalan perlahan , sambil menenteng gelas plastik
berisikan kopi ku yang sudah dingin. Melewati trotar jalan menuju pintu masuk
rumah sakit ini. Sepi dan terkesan seram, tentu saja karena rumah sakit ini
sudah berdiri sejak jaman belanda dulu. Tiba tiba
Su.....su..suaraaa...a sekelibas, se...olah a..aaada
sesuatu yang melintas di depanku. Akupun menggerakan leherku, menengok ke kiri
dan kenanan hadapanku. Namun aku tidak melihat apapun di hadapanku. Menandak, aku
menjadi takut. Dan menggigil. Dan merinding. Sebab aku sangat yakin ada sesuatu
yang melintas di depanku.
Langkahku yang tadinya perlahan,kupercepat. Agar cepat
sampai di dalam. Namun.
a....aa....aa..a..kuu melihaatnya.....akuu melihattnya..jelas
sekali!!!!
Jelas sekali terpampang di hadapanku sosok hitam
membentuk seorang wanita. Berdiri di hadapanku. Jaraknya lima meter dariku!!!
Aaaaa...aaa..kkuu takku..tttt
mulutku tidak dapat berkata kata lagi....
dia berdiri terdiam menunduk, di kasir tempat menebus obat...
tanpa pikir panjang akupun bersiap berlari, dan meninggalkan tempat itu!!
mulutku tidak dapat berkata kata lagi....
dia berdiri terdiam menunduk, di kasir tempat menebus obat...
tanpa pikir panjang akupun bersiap berlari, dan meninggalkan tempat itu!!
Tapi..
La...langkah..ku terhentii... kaa..aa..aare..nna aku merasakan ada tangan
yang menempel di pundaku..... dann... tida..aakk mau lepas.
aku berulang kali menelan ludahku, dan tanpa sadar aku pun menolehkan kepala ku perlahhan mencoba melihat sosok.. yang memegang pundaku tersebut.
aku berulang kali menelan ludahku, dan tanpa sadar aku pun menolehkan kepala ku perlahhan mencoba melihat sosok.. yang memegang pundaku tersebut.
“papah?”
Hufttt. Ternyata ayahku.. tenang rasanya. Tunggu, apakah
ayaku tidak melihat sosok perempuan hitam itu?!!!
Aku kembali menolehkan wajahku ke arah kasir tempat
perempuan hitam itu berdiri!! Dan ternyata!!
HILANG!! Hilang, dan tidak ada... kemana perginya..
“loh papah emang gak liat? “
Belum selesai berucap, saat aku mencoba kembali mengarahkan
pandanganku ke arah ayaku. Tiba tiba!!
“AAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Usa berteriak, kesadaranku pun hilang.
Saat terbangun.. aku melihat wajah para perawat wanita.
Di depanku.ia memberikan pertanyaan usai, apa yang membuatku jatuh pingsan.
ya aku pingsan. Dan ketika aku mejelaskan kejadian yang aku lihat. Mereka hanya terdiam dan, seolah tidak percaya. Bukan. Buka tidak percaya tapi pura pura tidak percaya aku yakin.
“jam berapa ini sus?”
ya aku pingsan. Dan ketika aku mejelaskan kejadian yang aku lihat. Mereka hanya terdiam dan, seolah tidak percaya. Bukan. Buka tidak percaya tapi pura pura tidak percaya aku yakin.
“jam berapa ini sus?”
Aku bertanya kepada salah seorang perawat yang ada di
hadapnku. Di menujukan jam pada tangannya, dan kulihat saat ini pukul lima
pagi, itu berarti aku telah pingsan selama dua jam.
Akupun memutuskan untuk, bangun pada siang harinya,
karena tubuhku sudah kurasa normal kembali. Dan aku tidak ingin berlama lama di
tempat tidur rumah sakit ini. Lagi pula aku kan sedangn menunggu nenekku yang
di rawat.
Bukannya tidak ingat, saat ayah menanyaiku dengan beragam
pertanyaan namun aku, memang tidak ingin mengingat kejadian semalam. Sama sekali
tidak ingin.
karena memory itu akan membuat bulu kuduku kembali berdiri.
Tidak terasa malam kembali menjelang, kali ini. Giliran
ayah yang berjaga dan aku di persilahkan untuk tidur di mobil. Aku menurut saja
mengingat pesan dokter yang merawatku tadi pagi. Bahwa aku harus istirahat,
karena menurutnya aku terlalu lelah.
Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari lewat lima
belas menit tepatnya. Meski mataku dalam posisi terpejam. Namun aku masih saja
tidak bisa membuat diriku tertidur. Entah mengapa. Kejadian semalam masih saja
terbesit di pikiranku. Dan entah mengapa juga. Sejak saat iut, kemanapun aku
melangkah, aku merasa seperti ada sesorang yang mendampingi ku.
Inilah alasan hingga saat ini pun, aku enggan membuka
kedua kelopak mataku. Meski aku tidak kunjung tidur. Sebab terasa sekali adanya
hawa sesosok mahluk yang ada di kursi yang berada di sebelahku.
Perlahan tapi pasti. Pikiranku pun melayang. Aku mulai
mengantuk, sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya.
*hhhhhshhhhshhhhh*
Aaaa...aa...appa. yang barusan itu, sss..uuaaraaa yang
jelas berasal dari kursi sebelah ku yang berada di mobilku. Sss..uuuaa..aarra
mendesis layaknya ularr...
“aahhkkkhhhhkk,. Uhuk uhuk”
Ya Tuhaann !!!! kali ini jelas sekali kudengar. Suara
seseorang berbatuk. Tepat berada di sebelahku, aku makin merapatkan kedua
kelopak mata ku, dan tidak sama sekali berniat membukanya !!!
Aku sangat takut!!. Takuttt kalau kejadian semalam akan
kembali menimpaku..
*tok tok tok tok* (suara orang mengetuk perlahan di
jendela)
“yooooo...”
Suara suara yang entah dari maana berasal ini terus
berdatangan, dan kali ini. Seseorang memanggil namaku. Aku sangat takut dan
tidak tahu harus berbuat apa!!
Bagaiimana ini?? Aku haruss apa ya Tuhannn??
“yoooooo......... aryoooooooo sayyyyyaaannnnggg”
Suara itu? Aa...aaa..kkuu. akkkuuu. Aku tau suara
ittuuu...
“yooooo,,,, akuuuu sillllllllllaa..aaa”
“BOHONG!! SILA GAK ADA DISINI !! DIA DI LUAR NEGRI!!!”
“yoooo.....”
Suara panggilan panggilan itu, terus datang,. Dan tiba
tiba terasa.. cairan hangat yang menetis di pipi sebelah kiriku...apa ini?
Akupun membuka mataku dan mencoba mengintip dan
menerawang cairan apakah ini?? Dan
ternyata ...
“Da.....d...aa..dd....daaarahh”
Saat itu juga, aku kembali melihat wajah yang kulihat tadi
malam saat aku pingsann !!!..
Waaajj,,,aaahh yyaaaang. Pennnuh,, dengan luka, dan
lubang..... dannnnn. Kelopak mata yang somplak. Dan tidak ada bola mataanya...
Ddddd...aaarahhh,, kennnttaall,, berwarrnna hitammm,,
menetess dari arah kelopak matannyyaaa,,, terseeebbuutttt.. ddiaaaaa..
dddiiiiaaaaa. Diiiaaaaa..
seorang perempuan yang di ceritakan oleh sekuriti rumah sakit ini !!!
Dia seorang pempuang korban kecelakaan tabrakan
beruntun!!!!
Dan ternyataaaaa... diiiiaaaaa SIILLAAAAA??!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar