#CEMAMAT (Cerita Malam Jumat)
Jumat, 29 Juni 2012
CEMAMAT EPOSODE 3
“Aaaahh. .. kenapa mesti udah masuk lagi sih. Padahal gw belum
sempet. Ngapa ngapain, mana laper lagi”.
Kadang memang menyebalkan,
ketika bel masuk berbunyi, bagi para siswa atau siswi yang belum sempat membeli
sarapan ke kantin. Karena malas berdesak desakan, ataupun
karena menggunakan waktu istirahat untuk mengerjakan tugas. Dan harus rela
karena menggunakan waktu istirahat untuk mengerjakan tugas. Dan harus rela
kelaparan, karena bel
tanda masuk berbunyi sebelum tugas
selesai.
Meski begitu aku tidak sama sekali, benci dengan belajar. Aku sangat
menyukainya. Bahkan mencintainya. Sekolah dan sekolah dari senin hingga sabtu,
membuat hidupku berarti.
mulai dari menulis, membaca, mengarang. Menjawab berbagai pertanyaan, bahkan hingga mengerjakan pr pun. Sangat aku nikmati.
mulai dari menulis, membaca, mengarang. Menjawab berbagai pertanyaan, bahkan hingga mengerjakan pr pun. Sangat aku nikmati.
Selain kegiatan belajar, alasan
ku cinta pada sekolah bukanlah karna, sekolahku termasuk sekolah unggulan di
serang. Namun memang, aku mencintai aroma sekolah. Mulai dari hiruk pikuk para
siswa dan siswi, yang datang dari berbagai macam suku dan berbagai macam
daerah. Berkumpul disini. Mejeng, gaul, ketawa ketiwi. Kutu buku. Model.
Berantakan, semuanya ada di sekolah.
Hihi menyenangkan bukan. Tentu saja
menyenangkan, tidak ada satu apapun yang tidak menyenangkan kalau kita bisa
melihatnya dari sudut pandang yang baik, aku sangat yakin keluhan keluhan para
siswa siswi yang tidak suka sekolah itu. Karena mereka hanya malas, dan sudah
terkontaminasi dengan kehidupan di luar tanpa mau lagi melihat kehiudupan di
dalam. Karena aku yakin apapun yang berbau sekolah pasti menyenangkan kecuali
*backsound mati* KAMAR MANDI * JENG
JENG* .
Perkenalkan Namaku Asri
Mustika, aku duduk di bangku kelas sepuluh. Di sebuah sma negri di kota serang.
Aku termasuk orang yang pendiam, dan suka menyendiri di kelas
saat jam istirahat, karena aku bukanlah tipikal orang yang suka bergaul sana sini saat jam istirahat. Kesempatan istirahat kebanyakan aku gunakan untuk membaca novel,
dan aku sudah menghabiskan ratusan novel selama aku sekolah, sejak kelas satu sekolah dasar hingga sekarang.
saat jam istirahat, karena aku bukanlah tipikal orang yang suka bergaul sana sini saat jam istirahat. Kesempatan istirahat kebanyakan aku gunakan untuk membaca novel,
dan aku sudah menghabiskan ratusan novel selama aku sekolah, sejak kelas satu sekolah dasar hingga sekarang.
orang sepertiku, tidak banyak di ingat
oleh guru. Apalagi teman, Pastilah kamu
tau, dan aku juga sangat yakin. Orang orang sepertiku pasti ada di setiap
sekolah di dunia, aku bukanlah murid nomor satu di kelas, apalagi di sekolah.
Meski begitu aku tetap berusaha. Untuk menjadi yang terbaik.
Parasku yang terbilang
cantik. Tetap tidak membuatku terkenal di sekoalah karena sifat pendiamku.
Sampai akhrinya Banyak teman temanku yang kaget dan tidak percaya. Kala
berpaspasan dengankku di luar sekolah, sebab di sekolah aku sangatlah biasa dan
tidak pernah memakai make-up. Rok rampel. Dan baju yang kebesaran. Rambut yang
di gerai lurus panjang. Serta sepatu
sekolah hitam standart yang kebanyakan
anak perempuan sekarang, malah jarang menggunakannya. Sedangkan. Ketika sedang
berada di luar aku lebih suka bergaya casual dan cuek. Tanktop putih. Dengan
jeans panjang, serta sandal teplek. Yang menjadi favoritku.
aku ingat saat segerombolan anak anak ips, terkaget kaget melihatku di mall beberapa waktu lalu. Mereka heran betapa bedanya aku saat di luar dan di dalam sekolah, sejak saat itu. Akupun menjadi perbincangan anak ips. Dan beberapa diantara mereka mulai mendekatiku, dan mencoba mencari tau nomor telepon genggamku.
Tidak sama sekali, terlintas
di benaku, untuk pacaran. Karena aku sudah berjanji pada kakek untuk tidak
pacaran sebelum menyelesaikan sekolahku hingga sarjana satu nanti.
Hari itu, aku sekolah seperti
biasanya. ini adalah hari senin. Dimana seluruh anak sekolah, mulai dari taman
kanak kanak hingga sekolah menengah atas sepertiku. Melaksanakan upacara
bendera.
terik matahari yang menyilaukan mataku, membuatku pusing, pusing dan pusing. Tidak seperti hari hari biasanya. mamah yang biasanya membuatkan ku sarapan tiap pagi, hari ini tidak dapat membuatkannya karena mamahku sedang berada di bandung bersama papah untuk urusan pekerjaan. Alhasil akupun tidak sarapan dan perutku kosong hingga upacara di mulai saat ini.
terik matahari yang menyilaukan mataku, membuatku pusing, pusing dan pusing. Tidak seperti hari hari biasanya. mamah yang biasanya membuatkan ku sarapan tiap pagi, hari ini tidak dapat membuatkannya karena mamahku sedang berada di bandung bersama papah untuk urusan pekerjaan. Alhasil akupun tidak sarapan dan perutku kosong hingga upacara di mulai saat ini.
keringatku bercucuran. Baju seragamku terlihat basah sedikiit demi sedikit,
karena keringat yang keluar dari pori pori sekitar leher. Kini mulai turun
semakin deras, kala sorot matahari semakin terang seiring waktu berlalu dan
bertambah siang.
Aku yang tidak kuat menahan
pusing dan mual akhirnya, menyerah. Dan akupun memanggil para murid ekskul pmr,
yang berada di barisan paling belakang, untuk membawaku ke uks. Tempat dimana
setiap murid yang sakit di bawa untuk di tangani. Disana aku di beri minyak
kayu putih, dan di berikan teh hangat. Agar tubuhku kembali sedikit bugar.
tidak lupa mereka pun menyuruhku untuk merebahkan badan di kasur yang sudah di
sediakan.
Di ruangan uks ini, aku hanya
berdua besama kakak kelas ber-rompi pmr yang membawaku ke uks ini. Di dalamnya
terlihat beberapa box box yang terbuat dari kayu berwarna putih dengan lambang
lambang berwarna merah, yang sudah terlihat usang, di sudut sebelah kiri aku
meilhat beberapa perban jelek, yang nampaknya sudah bertahun tahun berada
disitu dan tidak di pedulikan lagi,
lantai uks ini terbilang bertanah. Kotor
dan atapnya yang terbuat dari asbes, membuatnya kian lembab, di tambah sarang
laba laba yang hinggap di sudut sudut langit langit. Membuatku geli melihatnya,
meski begitu. Aku tidak bisa membangkitkan tubuhku karna sakit. Ya sudahlah,
mau bagau mana lagi.
Tidak lama aku berada di
ruangan itu, kakak kelas yang membawaku tadi pamit untuk kembali kebarisannya
kembali. Dia menutup pintu uks dan meninggalkan ku seorang diri.
entah kenapa...
entah kenapa...
Aku....merasa...sepii.. sepi
se sepi sepinya. Ruangan ini memang di kenal angker, karena bersebelahan dengan
kamar mandi di sekolah ini. Kamar mandi yang jarang di minati siswa sekolah,
karena cerita cerita yang beredar disini. Kemudian.
*jeng jeng jeng*
“Haahh!”
huft, hampir copot jantungku
di buatnya. Lega rasanya melihat ada anak perempuan lain yang masuk ruangan
ini, setidaknya. Aku jadi tidak sendirian lagi disini. Kulihat, wajahnya memang
sangat pucat. Dan dia tergopoh gopoh berjalan seorang diri. Eh, seorang diri?
“kak, emang kemana anak pmr
nya?”
Di tidak menjawab, dan seolah
tidak mendengar perkataanku tadi. Yah mungkin karena sedang sakit, jadi dia
tidak menghiraukan perkataanku tadi.
Sekarang, dia telah berbaring
di salah satu tempat tidur yang terletak di sudut tembok sebelah kiri ku. Di
uks ini memang hanya mempunyai tiga tempat tidur dan. Itu berarti, tempat tidur
yang tepat berada di tengah, kini kosong. Dan seolah memberikan jarak padaku
agar aku tidak mengganggu si pasien baru tadi.
Akupun memperhatikan, pasien
baru itu. Kuperkirakan dia adalah anak kelas sebelas, tubuhnya pendek, dan
tidak kurus namun tidak gemuk. Dengan kaus kaki panjang. Dan sepatu sekolah
biasa.
Rambutnya yang panjang di kepang kuda. Wajahnya yang pucat. Serta alis
yang tipis. Membuatku penasaran dan sangat ingin tahu, ia menderita penyakit
apa. Tapi. Kupikir pikir toh pertanyaanku tadi saja tidak di jawabnya, buat
apapula aku bertanya kembali. Malah nanti, dia akan kembali terdiam.
Tidak terasa akupun tertidur
dan, akhirnya di bangunkan oleh seorang anggota pmr, yang bilang bahwa upacara
telah selesai. Ia juga bertanya perihal aku telah sehat atau belum.
yah meski aku masih merasa sedikit pusing, namun tidak apalah.
Aku paksakan
sedikit. Terlebih aku tidak ingin ketinggalan mata pelajaran bahasa inggirs
kesukaanku yang ada usai upacara. Maka akupun memutuskan untuk kembali ke dalam
kelas. Tidak lupa aku berterimakasih atas perawatannya kepada anggota pmr
barusan, yang telah membangunkanku.
Belum sempat melangkah,
akupun teringat, akan anak yang satu ruangan saat di uks bersamaku tadi.
“eh, kak. Kalo boleh tanya,
yang tadi di uks. Sama aku itu, kelas
berapa yah?. Kayaknya pucet banget tau,
kasian. Kok dia gak ada yang nganter tadi?”
Saat aku melontarkan
pertanyaan itu, sang kakak kelas anak pmr tersebut, nampak bingung dan malah
bertanya kepada anggota lainnya. Namun..
Dia....bilang...harii...ini
yang sakit hanya aku !!
Aku masih bingung dengan apa
yang terjadi pada hari senin beberapa waktu kemarin itu. Sejak saat itu, aku
terus mencari anak yang waktu itu bersamaku di uks. Terbaring di kasur ke tiga
itu. Namun tidak kunjung ketemu.
Kakak kakak dari ekskul pmr
pun, sudah bersumpah serapah. Ketika aku bertanya untuk ketiga kalinya. Dan
jawabannya pun sama, mereka tidak tahu menahu sama sekali.
Lalu, siapakah dia?
Masalah ini, membuatku jadi
berantakan. Entah kenapa aku terus kepikiran dengannya. seorang siswi perempuan
berkepang dua.
Ini sudah minggu kedua aku
memikirkan masalah ini, dan aku belum menemukan informasi tentang si siswi
berkepang dua itu. Entah kenapa rasa penasaran yang teramat besar, menjadikan
aku terus mencarinya tiap hari. Bertanya dan terus bertanya kepada hampir
seluruh orang di sekolahan ini.
Sampai sampai
“ah!! ITU DIA !!”
Aku berteriak histeris,
ketika aku melihatnya sekilas. Diantara kerumunan siswa siswi yang tengah
keluar dari LAB bahasa dekat uks itu.
aku sangat yakin dengan mata kepalaku ini. Aku melihat siswi berkepang dua itu
baru saja melwati kerumunan para siswa kelas sepuluh yang keluar dari LAB
bahasa.
Tanpa banyak basa basi, aku
pun berlari. Dengan tertatih tatih. Sambil memanggil manggilnya.
“kaaakk, kakakk, tunggu!!”
Aku terus memanggilnya, namun dia tetap berjalan perlahan menuju, ke kamar mandi siswa. *backsound mati* kamar mandi sebelah uks.
Laju lariku sedikit demi
sedikit mulai melambat. Hingga akhirnya aku berjalan, karena tahu. Yang ia tuju
adalah kamar mandi siswa sebelah uks.
Jantungku mendadak berdegup
cepat. Saat tahu ia hendak kesana. Aku ragu. Sebab langsung terngiang di otaku,
cerita cerita yang pernah kudengar dari. Teman teman sekelasku. Tentang ke
angkeran kamar mandi itu.
Ah, tapi bukankah ini adalah
siang. Dan bukanya yang aneh aneh itu adanya malem malem doang?
Aku pun memberanikan diri.
Mencoba melawan rasa takut yang datang di benaku demi menghampiri siswi
berkepang dua yang masuk kedalam kamar mandi sebelah uks.
Langkah.. demi langkah..
pelan namun pasti... aku pun hampir tiba di uks.. dan saat aku hendak menaiki
anak tangga menuju kamar mandi. yang terpasang tepat di sebelah uks.
“aaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!”
AKU TERIAK SEKENCANG
KENCANGNYA !. SAAT AKU HENDAK MELANGKAH KE ANAK TANGGA PERTAMA. AKU DI KAGETKAN
DENGAN SESEORANG YANG MEMEGANG PERGELANGAN TANGANKU!!
PULUHAN SISWA SISWI YANG ADA DI KEJAUHAN,
MENDADAK MELIHAT KE ARAHKU. AKU MENJADI PUSAT PERHATIAN DALAM SEKEJAP!
JANTUNGKU BERDEBAR CEPAT
*deg deg deg* BULU KUDUKU MERINDING HINGGA KELEHER
DALAM SEKEJAP! NAFASKU CEPAT. HINGGA AKU SESAK!
“mau kemana neng asri..?
kamar mandi itu mah, gak ada aernya..”
Pak engkus. Penjaga kantinku,
menghentikan langkahku di anak tangga pertama menuju ke kamar mandi yang konon
angker di sekolahku itu. Akupun lemas dan terduduk di anak tangga itu, untuk
menenangkan diri sejenak.
Saat itu, pak engkus
mengatakan hendak menaruh ember dan gayung yang telah ia gunakan untuk menyiram
tanaman di kamar mandi itu. Tapi..
Aneh rasanya. Pertanyaan
besar mendadak terlontar di kepalaku saat, aku melihat beberapa kembang yang
biasa kulihat di kuburan ada di dalam ember itu. Ember yang berisi air kembang.
Dan gayung, hendak apakah dia?
Akupun menjelaskan tentang
cerita siswi kepang dua yang masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Pak engkuspun
mengatakan dirinyalah yang akan mencoba melihat kedalam dan, memastikan apakah
siswi tersebut ada atau tidak di dalam.
Dan tidak lama kemudian,
diapun keluar dan berkata. Bahwa di dalam kamar mandi, tidak ada satu orang
pun!
Aku heran, dan ingin
memastikannya langsung, namun pak engkus menahan dan melarangku. Aku kesal
sekali, karena ia tidak memberikan alasan apapun. Tentang mengapa aku tidak
boleh masuk ke kamar mandi itu.
Senada dengan bel pulang
berbunyi, para siswa dan sisiw. Tempatku belajar terlihat berbondong bondong,
keluar dari kelas menuju ke parkiran motor dan mobil, dan sebagian yang lainnya
berjalan ke arah pintu gerbang sekolah. Tapi..
Aku masih tetap di mejaku,
sendirian di dalam kelasku. Hari ini kami para siswa kelas sepuluh, pulang
sore, karena ada pelajaran tambahan, yang setiap minggunya rutin kami ikuti.
Tadi malam aku sudah
menyiapkan segala macam peralatan yang menurutku mungkin berguna, apabila di
butuhkan nanti.
Ya. Aku akan pergi. Dan
memastikan, ada apa di balik misteri.
Kamar mandi sebelah uks yang di sebut
sebut angker oleh para siswa di sini. Kamar mandi yang tidak boleh aku masuki
oleh pak engkus pada tiga hari yang lalu.
Meski mengantuk, namun aku
tidak boleh tidur, dan tetap harus awas. Meski saat ini keadaanku tengah
bersembunyi di dalam lemari yang cukup besar yang ada di dalam perpustakaan
sekolah.
Aku memlilih bersembunyi disini
karena memang, setauku satu satunya tempat yang tidak pernah di kunci hanyalah
perpustakaan, buku buku yang tidak bernilai jual. Dan tidak menjadi incaran
para pencuri berada.
Jam di hanphone ku
menunjukan, sepuluh malam. Terasa sunyi dan asing. Untuku yang tidak pernah
sama sekali, menginjakan kaki di sekolah pada malam hari.
Aku perlahan mencoba keluar..
dari perpustakaan. Dan menyusuri lorong di sekolahku, dengan mengendap endap
perlahan.
Terlihat. Pak engkus dan bang
amrin sekuriti sekolahku, tengah mengobrol di pos jaga mereka. Sedangkan aku
mengintip dari sela sela jendela ruang kelas dua belas ipa dua. Dan aku sangat
yakin mereka tidak akan sadar bahwa aku masih berada di dalam sekolah ini.
Pelan...peeelaaann..
langkaaah..ku hampir sampai di uks sekolahku berada..
mendadak, hembusan angin malam yang dingin, kini membuat suasana kamar mandi
yang ada di sebelahnya kian misitis aku rasakan..
Tapi nampaknya rasa
penasaranku mengalahkan segalanya. maka. Akupun meneruskan langkahku hingga aku
telah tiba di depan tiga buah anak tangga yang belum sempat selesai aku naiki
tiga hari yang lalu.
Mencoba melawan rasa takut,
aku melangkahkan langkah kaki ku di anak tangga pertama dengan hati hati, namun
tetap mengawasi sekitar kalau kalau pak engkus atau bang amrin mengetahui
keberadaanku yang nekat berada di sekolah paa larut malam seperti ini...anak
tangga keduaa selesai ku telusuri.. dan langkah kakiku sampai di anak tangga
ketiga yang artinya tinggal selangkah aku berada di kamar mandi yang ada di
sebelah kananku ini.
Na...mmmu...uuunnn..
se...sssee..eeppperti tidakk percaya dengan mata kepalaku sendirr..iii
pemaanndaanggaannnn, peeee pemaandangan yang mengejutkan ada di hadapanku saat
ini!!
Aku melihat dengan jelas,
sosok siswi berkepang dua yang aku cari cari selama ini. Dia berdiri tertunduk.
Kearah tembok kamar mandi yang gelap gulita karena tidak ada cahaya lampu yang
meneranginya.
Samar samar oleh cahaya
terang bulan yang redup malam itu, aku mencoba mengulurkan tanganku. Ke arahku,
mencoba menyapanya dengan menepuk pundaknya dari belakang. Tapi..
*suara kucing ngeong kenceng*
“haahh!” suara napas ketahan
takut kedengeran sama orang,
Hampir merasakan berhentinya
jantungku kala kucing yang lari berasal dari kamar mandi, menabrak kakiku. Dan
mengagetkanku.
kucing itu sempat mengalihkan pandanganku, sampai ketika aku melihat kembali ke arah siswi itu. Namun ternyata dia ..
kucing itu sempat mengalihkan pandanganku, sampai ketika aku melihat kembali ke arah siswi itu. Namun ternyata dia ..
HILANG! KEMANA DIA !! AKU
TIDAK MERASAKAN BAHKAN MENDENGAR, LANGKAH KAKI SIAPAPUN BARUSAN !!!
Penasaran. Akupun mencoba
memaksakan diriku dan masuk kedalam kamar mandi itu, dan melewati gerbang kamar
mand yang sudah tidak berpintu itu,. Dengan perlahan..
Tercium bau busuk, yang
tercampur dengan bau pesing, dari arah dalam tiap tiap bilik yang ada di dalam
kamar mandi yang sudah bertahun tahun tidak terpakai itu. Terlihat coretan coretan yang sudah tidak
jelas lagi bentuknya mewarnai dinding itu,. Gelap dan sunyi kurasakan, dan
tengah tengah kegelapan. Aku melihatnya kembali. aku melihat sosok si siswi
berkepang dua. Masih dalam keadaan berdiri. Di dalam salah satu bilik, berdiri
di depan kloset yang ada di dalam bilik itu, caha terang bulan yang redup.
Membuatku samar samar melihatnya. Aku mencoba menerawang dari atas hingga ke
bawah, memastikan benar tidaknya yang ada di hadapanku ini adalah. Dia.
Dua kepang ciri khasnya,
terpasang dengan rapih, dengan karet rambut berwarna hijau gelap. Dan anehnya
dia masih menggunakan seragam. Lengkap dengan roknya, dan sepatu yang persis
waktu itu aku lihat.
“ka.....kk,, kkkaakkkaakk...”
Perlahan aku memanggilnya,
dari arah belakangnya, berharap dia menoleh atau sekedar menjawab
panggilanku....
dan, tidak seperti panggilan panggilan ku yang sebelumnya. Kali ini dia nampak menggerakan kepalanya. Sediki..tt demi..sedikit... mencoba menoleh ke arah sebelah kiri,...tanpa menggerakan bahu dan badannya sedikitpun..dan...
dan, tidak seperti panggilan panggilan ku yang sebelumnya. Kali ini dia nampak menggerakan kepalanya. Sediki..tt demi..sedikit... mencoba menoleh ke arah sebelah kiri,...tanpa menggerakan bahu dan badannya sedikitpun..dan...
KKKKKK...EEEEKKEEEEE...KKEEEPALAAANNYYAA.!!!
KEPAALANYAAAA TERUS BERPUTAR, MELAWATI SUDUT NORMAL MAUNUSIA SAAT MENOLEH !!
KKEEEEE..KKEPALANYA BERPUTAR
SERATUS DELAPAN PULUH DERAJATT!!
BAA.BADANKU TIDAK DAPAT
BERANJAK WALAU HANYA SATU SENTI SEKALIPUN..... akkuuuu takuuttttt. Akuu ingin
teriak tapii tidak bisaaaaaa..
Jelas terlihat wajah pucatnya
yang melihatku dengan tajam..... matanya yang tajam menatapku........akuu
jatuuhhh terduuduk. Karena kakiku lemas melihat hall seperti ini......
Aku tidak mampu
berdiri.....diiaaaaa dengan kepala menghadapku dan badan menghadap tembok
melihatku, dan mulaai melebarkan mulutnyaa.......
Me....mmmeee...meee MENCOBA
MELBARKAN SENYUM SELEBAR LABARNYA !! HINGGA
MULUTNYA ROBEK DAN MENGELUARKAN DARAH!!
KINI SENYUMNYA MELEBAR HINGGA MENYENTUH ALISNYA YANG TIPIS ITU!!!
Diiiiidddddddd....ddiaaa
masih melihatkuu.. tanpa bernjak sedikitpunn..
Mataaaa....dan pandangankuu tidaaakk bisa lepas dari
matanyaa.... aku takuuttttt........
Ingin rasanya aku keluarr
dari tempat ini. Tapi tidak bisa... kaki ku tidak dapat di gerakan saking
takutnya.......
“AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!*
Kurasakan, empuk dan
hangatnya tempat tidur di tempat badanku di rebahkan. Dan ketika mataku
terbuka. Aku melihat sosok mamah dan papahku yang cemas dengan keadaanku, disitu
juga ada pak engkus yang menolongku saat aku jatuh pingsan di kamar mandi.
Pak engkus berbohong kepada
papah dan mamah, tentang kelakuanku di sekolah agar mereka tidak marah
kepadaku, dan demi menjaga rahasia yang ada di sekolah itu.
Dan ketika kutanya tentang
apa yang kulihat saat di sekolah tadi malam ia bercerita..
Bahwa sosok itu adalah,
seorang siswi yang bunuh diri karena depresi, setelah dirinya di perkosa di
kamar mandi itu, oleh tiga orang siswa yang menculiknya dan menyekapnya saat di
uks, yang kemudian menggirinya ke kamar mandi itu, untuk di gagahi.
Dan tidak lama selang
kejadian itu. Tiga siswa cabul tersebut mati mengenaskan dengan kecelakaan yang
tidak lazim.
_END_
DENGARKAN TERUS #CEMAMAT DI #BoardingNite only on 96,1 Prima Radio
DIRECTED BY : RIZKI IRAWAN SUPORTED BY : INDOSAT
#CEMAMAT EPISODE 2
CEMAMAT EPISODE 2
“Nenek, yang sabar yah. Nenek kuat kok. Aryo yakin nek.
Huhu” (sambil menahan nangis)
Masih terngiang kejadian itu di otaku, selalu terbayang.
Dan perutku serasa mual di buatnya. Kalau aku bisa mencongkel memory ini dari
otaku adalah. Memory tentang kejadian itu. Karena semenjak kejadian itu.
Seluruh kerjaanku di kantorku yang berada di kota cilegon berantakan.
beberapa kali atasanku, menegorku karena klien yang sudah di depan mata, menandatangani berkas kerjasama. Harus menolak karena ulahku.
beberapa kali atasanku, menegorku karena klien yang sudah di depan mata, menandatangani berkas kerjasama. Harus menolak karena ulahku.
Aryo winata namaku, aku adalah seorang eksekutif manager
dii salah satu perusahaan swasta di bidang perdagangan industri dalam dan luar
negri. Umurku yang terbilang muda, yakni dua puluh lima tahun. membuat banyak
menuai dari orang orang sekitar lingkungan kerjaku, bagaimana tidak. Dengan
umur yang relatif muda aku bisa menempati jabatan bergengsi di kantor dimana
aku bekerja.
Aku belum menikah, memikirkannya pun tidak. Pacarku yang
sudah menjadi mantan saat ini entah kemana, meninggalkan ku bersama
selingkuhannya yang sangat mapan di banding aku pada saat itu. Dan kini hari
hariku hanya fokus kerja dan memberikan penghasilanku untuk menyenangkan
keluargaku.
papah, dan nenek. Yah, hanya itu yang
paling berharga untuku saat ini. Kendati sebenarnya di dalam rumahku ada orang
lain yang ku sebut kakak dan adik serta ibu. Namun aku tidak mengakuinya karena
mereka adalah soudara tiri, hasil perkawinan ayahku yang seorang pensiunan bank
swasta di jakarta.
Sore itu, handphoneku berdering. Saat aku usai habis
melangsungkan meeting dengan beberapa klien ku, di salah satu hotel di cilegon.
Dan ternyata.....
“NENEK!!!!!!! NENEK KENAPA PAH !!! PAPAH DIMANA!! JAWAB
PAH !! ” (Suara Ambulans)
Suara ku terdengar keras, hingga ke lobi hotel. Sehingga
membuat orang orang berdasi di sekitarku menoleh ke arahku.
Rupanya nenek masuk rumah sakit. Aku meminta kepada
ayahku untuk mendekatkan telepon genggamku di telinga nenek, karena aku sangat
kuatir dan ingin berbicara dengannya. Aku sangat panik saat itu, yang
kupikirkan bagaimana caranya agar aku ada di ambulan yang membawa nenekku saat
itu.
“Nenek, yang sabar yah. Nenek kuat kok. Aryo yakin nek.
Huhu” (sambil menahan nangis)
Tangis ku pun pecah usai, mengatakan hal tersebut. Seraya
berlari ke arah mobil sedan miliku dan meraih kunci dengan tergesa gesa karena
panik.
Sesampainya di rumah salah satu swasta di cilegon. Nenek
ku di rawat. Tangisku semakin pecah sejadi jadinya.
“huhuhuhuhuhuhuh”
Ketika aku melihat ayah dan sodara sodaraku yang datang
dari berbagai tempat di kota ini, tengah menunduk menunggu, hasil yang di
paparkan oleh dokter. Mereka tidak dapat masuk ruangan karena nenek ku berada
di dalam ruang ICU. Dan tidak ada yang boleh masuk untuk meiihat ataupun
menunggu di dalam.
Neneku di diagnosa penderita penyakit dalam, yang bahkan
aku kurang paham apa penyebabnya, lagi pula aku pun tidak begitu ingin tahu.
Karena yang aku pikirkan saat ini adalah, wajah wajah nenek saat tersenyum kala
belum menderita penyakitnya saat ini.
Dokter rumah sakit itu memutuskan bahwa nenek, harus di
rawat beberapa hari di rumah sakit. Guna menjalani sejumlah pengobatan dan
terapi di rumah sakit. Namun masih di dalam ruang ICU itu, akibatnya aku dan
ayahku harus rela menunggu di lobi depan pintu masuk ruang ICU tersebut.
Malam itu, hari ketiga aku menunggu nenek di rumah sakit,
seakan sudah menjadi rumah sendiri. Aku merasa bebas bepergian sana sini. Usai
rumah sakit swasta yang tergolong rumah sakit elit itu tutup. Wajar saja sebab,
sudah tiga hari pula aku bolos kerja. Dan aku masa bodo perihal surat
peringatan dua yang di layangkan kepadaku.
Tiba tiba mataku tertuju pada sumber suara yang kuketahui
adalah sebuah tempat tidur pasien yang di dorong oleh dua orang perawat laki
laki yang di bantu oleh dua orang sekuriti perempuan. Yang melewati tempatku
duduk di depan ruangan ICU.
Akupun mencoba berdiri, mencoba melihat lebih teliti.
Sakit apakah orang ini? Dia baru saja bersal dari UGD, Unit Gawat Darurat.
Tempat pasien pasien Darurat datang dan di tangani. Siapa dia?
Banyak bercak merah, diatas sebuah kain hijau yang
menyelimuti tubuh dan wajahnya. Ah sudahlah, bukan urusanku.
Tidak lama berselang, sekuriti pembawa tempat tidur
pasien tadi berjalan beriringan, hendak kembali ke pos jaga mereka. Akupun
bertanya pada mereka. Kenapa orang yang barusan, dan siapa dia. Rasa
penasaranku timbul dan mereka menjawab.....
Bahwa yang barusan Itu, adalah seorang perempuan muda
yang menjadi korban tabrakan beruntun siang tadi.
Nyawanya tidak tertolong, meski dokter sudah berupaya
melkukan penyelamatan. Wajahnya rusak, dan sebelah bola matanya hilang pada
kecelakaan
Mendengar ceritanya, bulukuduku merinding. Dan tidak bisa
berkata kata apapun menanggapi cerita dua orang sekuriti tersebut. Dan akupun
kembali terduduk di bangku tempat aku duduk.
Entah kenapa, jantungku berdegup cepat. Dan bulu kuduku
yang merinding tidak kunjung turun.
“ah mendingan gw ngopi deh kedepan”
Alih alih mencoba menenangkan diri sendiri. Akupun
berjalan keluar untuk membeli secangkir kopi yang, sudah tiga hari sering aku
beli. Tempatnya berada di sebrang tempat rumah sakit ini berada. Tidak jauh,
maka dari itu aku hanya berjalan kaki.
Suara angin berhembus terdengar dan terasa di telingaku,
jarum jam di jam tanganku menunjukan pukul setengah tiga dini hari. Para
sekuriti tadi. Sudah terlelap di bangku yang terdapat di pos jaganya.
Aku membawa sisa kopi ku yang di seduh menggunakan
cangkir plastik dan hendak ku bawa ke dalam rumah sakit. Saat berjalan, aku
sempat melihat ke arah mobilku dan aku melihat ayahku tengah terlelap tidur di
dalamnya. Ingin rasanya aku tidur. Namun aku harus tetap berjaga, kalau kalau
ada laporan dari dokter jaga tentang kondisi nenek.
Aku berjalan perlahan , sambil menenteng gelas plastik
berisikan kopi ku yang sudah dingin. Melewati trotar jalan menuju pintu masuk
rumah sakit ini. Sepi dan terkesan seram, tentu saja karena rumah sakit ini
sudah berdiri sejak jaman belanda dulu. Tiba tiba
Su.....su..suaraaa...a sekelibas, se...olah a..aaada
sesuatu yang melintas di depanku. Akupun menggerakan leherku, menengok ke kiri
dan kenanan hadapanku. Namun aku tidak melihat apapun di hadapanku. Menandak, aku
menjadi takut. Dan menggigil. Dan merinding. Sebab aku sangat yakin ada sesuatu
yang melintas di depanku.
Langkahku yang tadinya perlahan,kupercepat. Agar cepat
sampai di dalam. Namun.
a....aa....aa..a..kuu melihaatnya.....akuu melihattnya..jelas
sekali!!!!
Jelas sekali terpampang di hadapanku sosok hitam
membentuk seorang wanita. Berdiri di hadapanku. Jaraknya lima meter dariku!!!
Aaaaa...aaa..kkuu takku..tttt
mulutku tidak dapat berkata kata lagi....
dia berdiri terdiam menunduk, di kasir tempat menebus obat...
tanpa pikir panjang akupun bersiap berlari, dan meninggalkan tempat itu!!
mulutku tidak dapat berkata kata lagi....
dia berdiri terdiam menunduk, di kasir tempat menebus obat...
tanpa pikir panjang akupun bersiap berlari, dan meninggalkan tempat itu!!
Tapi..
La...langkah..ku terhentii... kaa..aa..aare..nna aku merasakan ada tangan
yang menempel di pundaku..... dann... tida..aakk mau lepas.
aku berulang kali menelan ludahku, dan tanpa sadar aku pun menolehkan kepala ku perlahhan mencoba melihat sosok.. yang memegang pundaku tersebut.
aku berulang kali menelan ludahku, dan tanpa sadar aku pun menolehkan kepala ku perlahhan mencoba melihat sosok.. yang memegang pundaku tersebut.
“papah?”
Hufttt. Ternyata ayahku.. tenang rasanya. Tunggu, apakah
ayaku tidak melihat sosok perempuan hitam itu?!!!
Aku kembali menolehkan wajahku ke arah kasir tempat
perempuan hitam itu berdiri!! Dan ternyata!!
HILANG!! Hilang, dan tidak ada... kemana perginya..
“loh papah emang gak liat? “
Belum selesai berucap, saat aku mencoba kembali mengarahkan
pandanganku ke arah ayaku. Tiba tiba!!
“AAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Usa berteriak, kesadaranku pun hilang.
Saat terbangun.. aku melihat wajah para perawat wanita.
Di depanku.ia memberikan pertanyaan usai, apa yang membuatku jatuh pingsan.
ya aku pingsan. Dan ketika aku mejelaskan kejadian yang aku lihat. Mereka hanya terdiam dan, seolah tidak percaya. Bukan. Buka tidak percaya tapi pura pura tidak percaya aku yakin.
“jam berapa ini sus?”
ya aku pingsan. Dan ketika aku mejelaskan kejadian yang aku lihat. Mereka hanya terdiam dan, seolah tidak percaya. Bukan. Buka tidak percaya tapi pura pura tidak percaya aku yakin.
“jam berapa ini sus?”
Aku bertanya kepada salah seorang perawat yang ada di
hadapnku. Di menujukan jam pada tangannya, dan kulihat saat ini pukul lima
pagi, itu berarti aku telah pingsan selama dua jam.
Akupun memutuskan untuk, bangun pada siang harinya,
karena tubuhku sudah kurasa normal kembali. Dan aku tidak ingin berlama lama di
tempat tidur rumah sakit ini. Lagi pula aku kan sedangn menunggu nenekku yang
di rawat.
Bukannya tidak ingat, saat ayah menanyaiku dengan beragam
pertanyaan namun aku, memang tidak ingin mengingat kejadian semalam. Sama sekali
tidak ingin.
karena memory itu akan membuat bulu kuduku kembali berdiri.
Tidak terasa malam kembali menjelang, kali ini. Giliran
ayah yang berjaga dan aku di persilahkan untuk tidur di mobil. Aku menurut saja
mengingat pesan dokter yang merawatku tadi pagi. Bahwa aku harus istirahat,
karena menurutnya aku terlalu lelah.
Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari lewat lima
belas menit tepatnya. Meski mataku dalam posisi terpejam. Namun aku masih saja
tidak bisa membuat diriku tertidur. Entah mengapa. Kejadian semalam masih saja
terbesit di pikiranku. Dan entah mengapa juga. Sejak saat iut, kemanapun aku
melangkah, aku merasa seperti ada sesorang yang mendampingi ku.
Inilah alasan hingga saat ini pun, aku enggan membuka
kedua kelopak mataku. Meski aku tidak kunjung tidur. Sebab terasa sekali adanya
hawa sesosok mahluk yang ada di kursi yang berada di sebelahku.
Perlahan tapi pasti. Pikiranku pun melayang. Aku mulai
mengantuk, sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya.
*hhhhhshhhhshhhhh*
Aaaa...aa...appa. yang barusan itu, sss..uuaaraaa yang
jelas berasal dari kursi sebelah ku yang berada di mobilku. Sss..uuuaa..aarra
mendesis layaknya ularr...
“aahhkkkhhhhkk,. Uhuk uhuk”
Ya Tuhaann !!!! kali ini jelas sekali kudengar. Suara
seseorang berbatuk. Tepat berada di sebelahku, aku makin merapatkan kedua
kelopak mata ku, dan tidak sama sekali berniat membukanya !!!
Aku sangat takut!!. Takuttt kalau kejadian semalam akan
kembali menimpaku..
*tok tok tok tok* (suara orang mengetuk perlahan di
jendela)
“yooooo...”
Suara suara yang entah dari maana berasal ini terus
berdatangan, dan kali ini. Seseorang memanggil namaku. Aku sangat takut dan
tidak tahu harus berbuat apa!!
Bagaiimana ini?? Aku haruss apa ya Tuhannn??
“yoooooo......... aryoooooooo sayyyyyaaannnnggg”
Suara itu? Aa...aaa..kkuu. akkkuuu. Aku tau suara
ittuuu...
“yooooo,,,, akuuuu sillllllllllaa..aaa”
“BOHONG!! SILA GAK ADA DISINI !! DIA DI LUAR NEGRI!!!”
“yoooo.....”
Suara panggilan panggilan itu, terus datang,. Dan tiba
tiba terasa.. cairan hangat yang menetis di pipi sebelah kiriku...apa ini?
Akupun membuka mataku dan mencoba mengintip dan
menerawang cairan apakah ini?? Dan
ternyata ...
“Da.....d...aa..dd....daaarahh”
Saat itu juga, aku kembali melihat wajah yang kulihat tadi
malam saat aku pingsann !!!..
Waaajj,,,aaahh yyaaaang. Pennnuh,, dengan luka, dan
lubang..... dannnnn. Kelopak mata yang somplak. Dan tidak ada bola mataanya...
Ddddd...aaarahhh,, kennnttaall,, berwarrnna hitammm,,
menetess dari arah kelopak matannyyaaa,,, terseeebbuutttt.. ddiaaaaa..
dddiiiiaaaaa. Diiiaaaaa..
seorang perempuan yang di ceritakan oleh sekuriti rumah sakit ini !!!
Dia seorang pempuang korban kecelakaan tabrakan
beruntun!!!!
Dan ternyataaaaa... diiiiaaaaa SIILLAAAAA??!!!!!
Langganan:
Komentar (Atom)
